Mungkin sedikit bingung membaca judulnya. Itulah maka ada pepatah jangan menilai isi dari bungkusnya (cover).
Saya terinspirasi dari beberapa kejadian, termasuk yang baru tadi pagi terjadi didepan mata.
Beberapa
pribadi yang sebenarnya memiliki posisi dan tugas penting di
lingkungannya, ternyata banyak mengeluh tentang pencapaiannya sebagai
orang penting. Ya pencapaian tak penting dari posisi penting. Ternyata
kebanyakan dari mereka tidak sepenuhnya sadar jika "sikap" merekalah
yang membuat diri mereka tak penting lagi di lingkungannya, walau
sebenarnya posisi dan tugasnya penting.
Seorang yang
dipercaya atasannya sebagai pemimpin tim, dengan sederet tugas penting
di posisi yang penting, ternyata memiliki sikap tak penting. Datang
terlambat (bahkan tak datang tanpa sebab yg jelas), ponsel tak aktif
atau bahkan tak pernah diangkat, dan selalu menghilang jika dibutuhkaan
dalam keadaan genting. Awalnya sikapnya jelas merepotkan tim yang
dipimpinnya bahkan juga merepotkan bosnya. Karena banyak fungsi
ko'ordinasi yang tak jalan dan tugas2 yang terbengkalai tak selesai.
Namun lama-kelamaan,keberadaannya sudah tak penting lagi. Karena tim-nya
sudah terbiasa berjalan tanpa ada dirinya. Bahakan si bos langsung
mengambil alih tugas2nya.
Sungguh sayang. Posisi penting, tugas penting, tapi memilih sikap yang salah sehingga dirinya tak penting lagi keberadaannya.
Atau
seorang wanita, yang diciptakan penting. Baik posisi dan tugas tugas
mulianya, merawat dan menumbuhkan keluarga. Namun memilih sikap yang
salah, hingga keberadaannya tak penting lagi baik dihati anak-anak
maupun suaminya. Anak-anak lebih dekat pada pengasuhnya, sementara suami
yang kurang perhatian malah mencari perhatian diluar. Ntah apa yang
kemudian menjadi prioritas hidupnya, jika fitrah pencipta'annya sendiri
sudah ditinggalkan. Pribadi penting dengan posisi dan tugas penting tapi
memilih sikap yang salah sehingga tak penting lagi.
Atau perintah menutup aurat !!
Diciptakan
penting, mulia dan terhormat, sehingga harus "dijaga".... namun memilih
mengumbar aurat, bergaul bebas sehingga tak lagi penting, tak lagi
mulia dan tak lagi terhormat. Setidaknya jika berada dilingkungan yang
lebih terjaga kehormatannya.
Pribadi yang kualitasnya baik itu adalah, jika mampu menjadi penting diposisi dan tugas apapun. Walau sangat kecil perannya.
Saya
pernah melihat seorang cleaning service yang sedang membersihkan
ruangan kantor. Ya peran yang sangat kecil dibandingkan tugas tugas
manager, supervisor, marketing dan lain lain. Apakah tidak penting??
Mari kita lihat, hanya dengan mengetahui jawaban mereka dari satu pertanyaan yang sama :
" Mengapa anda membersihkan kantor ini ?"
CS 1 : "Karena ini tugas saya. Ini pekerjaan saya. Saya dibayar untuk ini"
CS 2 : "Saya ingin agar orang yang berada di kantor ini hidupnya lebih baik, karena lingkungan kerja yang
bersih dan sehat"
Dari keduanya, mana yg lebih penting ??
Ya
benar, CS 2. Kini dia asisten manager. Karena visi dan misinya adalah
kemuliaan bagi sesama, maka dia di"penting"kan dilingkungan kerjanya.
Sang bapak penanya yang ternyata owner dari perusahaan tersebut, sangat
tersentuh dengan jawaban CS2 yang hanya lulusan SMA itu. Hingga
berinisiatif untuk membiayai kuliah si CS2 hingga meraih gelar master,
dan kemudian diposisikan sebagai asisten manager diperusahaan yang sama.
Luar biasa.
Seorang
tukan/pembuat gerabah yang menjual tempat buah dari tanah liat apakah
bisa kaya dengan omset yang hanya 30 sd 50 ribu sehari?? Ya sangat sulit
membayangkannya. Mungkin Anda menjawab "TIDAK BISA" ...... anda benar.
Jika
hanya menjual gerabah mencari uang, maka dia tak akan kaya. Namun
dengan sikap yang memposisikan dirinya diposisi penting, maka dia bisa
menjadi kaya.
Lalu apa yang dicarinya jika tidak supaya mendapatkan uang??
Sahabat saya pernah menanyakan itu kepada beliau. Dan jawabanya,
"Supaya orang yang membeli gerabah saya ini, hidupnya lebih mudah, rumahnya lebih rapi dan indah"
Visinya
yang positif menciptakan sikap yang positif, dan sikap positif
tercerminkan didalam perilaku yang santun dan melayani. Kini dia menjadi
penting bagi lingkungannya, didesanya dia membina para tetangga untuk
maju sepertinya. Ya saya dengar beliau telah menjadi mitra binaan dan
percontohan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (PERINDAG). Bukan
hanya dikasi modal dan dibelikan mesin, tetapi sering diajak berpameran
ke luar negeri juga, hingga relasinya bertambah dan produknya telah pula
dieksport ke luar negeri.
Hebat bukan??
Ya
mungkin tak semuanya setuju, bahkan merasa taksuka. Tapi ini bukan
masalah suka atau nggak suka, ini masalah kebenaran, diakui atau tidak,
suka atau tidak, tetap saja bernilai sebuah kebenaran.
Jika
ikhlas menerima dan mencobanya, semoga Alloh memberikan jalan keluar
dari setiap ikhtiar baik yang ada. Namun Jika tidak ikhlas dan
menolaknya, semoga Alloh masih memberi waktu dikemudian hari bagi
kelapangan hati untuk menerima kebaikan. a m i n

Tidak ada komentar:
Posting Komentar