Senin, 12 Januari 2015

Penting Tapi Tidak Penting

     Mungkin sedikit bingung membaca judulnya. Itulah maka ada pepatah jangan menilai isi dari bungkusnya (cover).
Saya terinspirasi dari beberapa kejadian, termasuk yang baru tadi pagi terjadi didepan mata.

     Beberapa pribadi yang sebenarnya memiliki posisi dan tugas penting di lingkungannya, ternyata banyak mengeluh tentang pencapaiannya sebagai orang penting. Ya pencapaian tak penting dari posisi penting. Ternyata kebanyakan dari mereka tidak sepenuhnya sadar jika "sikap" merekalah yang membuat diri mereka tak penting lagi di lingkungannya, walau sebenarnya posisi dan tugasnya penting.


    Seorang yang dipercaya atasannya sebagai pemimpin tim, dengan sederet tugas penting di posisi yang penting, ternyata memiliki sikap tak penting. Datang terlambat (bahkan tak datang tanpa sebab yg jelas), ponsel tak aktif atau bahkan tak pernah diangkat, dan selalu menghilang jika dibutuhkaan dalam keadaan genting. Awalnya sikapnya jelas merepotkan tim yang dipimpinnya bahkan juga merepotkan bosnya. Karena banyak fungsi ko'ordinasi yang tak jalan dan tugas2 yang terbengkalai tak selesai. Namun lama-kelamaan,keberadaannya sudah tak penting lagi. Karena tim-nya sudah terbiasa berjalan tanpa ada dirinya. Bahakan si bos langsung mengambil alih tugas2nya.
Sungguh sayang. Posisi penting, tugas penting, tapi memilih sikap yang salah sehingga dirinya tak penting lagi keberadaannya.

    Atau seorang wanita, yang diciptakan penting. Baik posisi dan tugas tugas mulianya, merawat dan menumbuhkan keluarga. Namun memilih sikap yang salah, hingga keberadaannya tak penting lagi baik dihati anak-anak maupun suaminya. Anak-anak lebih dekat pada pengasuhnya, sementara suami yang kurang perhatian malah mencari perhatian diluar. Ntah apa yang kemudian menjadi prioritas hidupnya, jika fitrah pencipta'annya sendiri sudah ditinggalkan. Pribadi penting dengan posisi dan tugas penting tapi memilih sikap yang salah sehingga tak penting lagi.

Atau perintah menutup aurat !!
    Diciptakan penting, mulia dan terhormat, sehingga harus "dijaga".... namun memilih mengumbar aurat, bergaul bebas sehingga tak lagi  penting, tak lagi mulia dan tak lagi terhormat. Setidaknya jika berada dilingkungan yang lebih terjaga kehormatannya.

Pribadi yang kualitasnya baik itu adalah, jika mampu menjadi penting diposisi dan tugas apapun. Walau sangat kecil perannya.

     Saya pernah melihat seorang cleaning service yang sedang membersihkan ruangan kantor. Ya peran yang sangat kecil dibandingkan tugas tugas manager, supervisor, marketing dan lain lain. Apakah tidak penting??
Mari kita lihat, hanya dengan mengetahui jawaban mereka dari satu pertanyaan yang sama :

" Mengapa anda membersihkan kantor ini ?"

CS 1 : "Karena ini tugas saya. Ini pekerjaan saya. Saya dibayar untuk ini"
CS 2 : "Saya ingin agar orang yang berada di kantor ini hidupnya lebih baik, karena lingkungan kerja yang  
           bersih dan sehat"

Dari keduanya, mana yg lebih penting ??
    Ya benar, CS 2. Kini dia asisten manager. Karena visi dan misinya adalah kemuliaan bagi sesama, maka dia di"penting"kan dilingkungan kerjanya. Sang bapak penanya yang ternyata owner dari perusahaan tersebut, sangat tersentuh dengan jawaban CS2 yang hanya lulusan SMA itu. Hingga berinisiatif untuk membiayai kuliah si CS2 hingga meraih gelar master, dan kemudian diposisikan sebagai asisten manager diperusahaan yang sama.
Luar biasa.

     Seorang tukan/pembuat gerabah yang menjual tempat buah dari tanah liat apakah bisa kaya dengan omset yang hanya 30 sd 50 ribu sehari?? Ya sangat sulit membayangkannya. Mungkin Anda menjawab "TIDAK BISA" ...... anda benar.
Jika hanya menjual gerabah mencari uang, maka dia tak akan kaya. Namun dengan sikap yang memposisikan dirinya diposisi penting, maka dia bisa menjadi kaya.
Lalu apa yang dicarinya jika tidak supaya mendapatkan uang??
Sahabat saya pernah menanyakan itu kepada beliau. Dan jawabanya,

"Supaya orang yang membeli gerabah saya ini, hidupnya lebih mudah, rumahnya lebih rapi dan indah"

      Visinya yang positif menciptakan sikap yang positif, dan sikap positif tercerminkan didalam perilaku yang santun dan melayani. Kini dia menjadi penting bagi lingkungannya, didesanya dia membina para tetangga untuk maju sepertinya. Ya saya dengar beliau telah menjadi mitra binaan dan percontohan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (PERINDAG). Bukan hanya dikasi modal dan dibelikan mesin, tetapi sering diajak berpameran ke luar negeri juga, hingga relasinya bertambah dan produknya telah pula dieksport ke luar negeri.

Hebat bukan??

    Ya mungkin tak semuanya setuju, bahkan merasa taksuka. Tapi ini bukan masalah suka atau nggak suka, ini masalah kebenaran, diakui atau tidak, suka atau tidak, tetap saja bernilai sebuah kebenaran.

     Jika ikhlas menerima dan mencobanya, semoga Alloh memberikan jalan keluar dari setiap ikhtiar baik yang ada. Namun Jika tidak ikhlas dan menolaknya, semoga Alloh masih memberi waktu dikemudian hari bagi kelapangan hati untuk menerima kebaikan. a m i n

Tidak ada komentar:

Posting Komentar