Senin, 12 Januari 2015
Bersyukur
Pada dasarnya, Tuhan selalu memenuhi kebutuhan kita. Setiap hari, bahkan tanpa kita sadari. Hanya sj memang, Tuhan tak selalu memenuhi "keinginan" kita.
Karena ternyata, apa yg kita "inginkan" belum tentu kita butuhkan, bahkan tidak kita butuhkan atau melebihi kebutuhan kita. Manusia itu banyak maunya, tp kurang bersyukur.
Sebaiknya mulai bersyukur. Krn msh bnyk yg tdk menerima spt apa yg kita terima atau yg menerima lebih dari apa yg kita terima tetapi tidak pernah merasa menerima apa-apa.
Mengapa penting untuk bersyukur ??
Semua orang ingin hidupnya bahagia, dan melakukan berbagai cara untuk menemukan kebahagiaan itu.
Pribadi yang mencintai dunia ini, ingin bahagia hidupnya. Tapi bingung caranya. Setelah sukses, setelah duitnya banyak koq belum bahagia juga? Mungkin perlu menikmati hidup, nongkrong, mabuk, party party..... wow......seru juga........
Tapi setelah sadar dari efek alkoholnya, setelah party-nya bubar, kembali lagi pada kondisi hampa dan tak bahagia.
Mungkin duit banyak bukan solusinya, hmmm.... coba kalau, duitnya dikit...... yeeeee, ini lagi. Banyak keinginan, tapi tanpa kemampuan. Yang ada hanya sakit hatiiiiii terus. G bisa lihat orang senang, g bisa lihat orang sukses, g bisa menerima kalo ada yg lebih baik. Sama aja, karena pengen instan malah dateng ke orang pinter (bukan profesor.... tp dukun), ini malah terjebak syirik. 40 hari sholatnya g diterima, astagfirulloh. Baca koran, ada gadis belia terjebak prostitusi cuma karena pengen punya BB, astagfirulloh (lagi............) parah parah.......
Jadi apa dong?? agar bahagia.....
Bahagia itu sebenernya perasaan hati..... bukan keadaan fisik. Walau memang, perasaan hati bisa dipicu oleh keadaan fisik. Tapi nyatanya tidak selalu lho. Karena manusia dasarnya suka cari2 alasan agar tidak bersyukur. hmmmm maksud saya, lebih mudah nemuin alasan untuk tidak bersyukur ketimbang mencari2 alasan untuk bersyukur.
Balik lagi ke intinya, apa kaitannya dengan bahagia??
Gini, bahagia itu perasaan yang menyenangkan bukan?? ya, perasaan ini bisa dipicu, bisa terciptakan. Caranya, putuskan diri anda bersyukur. Caranya? lihatlah sekeliling kita.....
Sahabat sy mengatakan keuntungan transaksinya kecil, dia mengeluh, wajahnya kusut. Ketika saya tanya "berapa?" dia bilang "hanya" 5 jutaan. Saya tersenyum kemudian mengajaknya jalan2 malam.
"Mau kemana? Kenapa naik motor?? dingin. Naik mobil aja...." begitu katanya, memang saat ini sudah larut, dinginnya menusuk. Namun saya sengaja ingin membuatnya merasa begitu.
"Udah ikut saja. Jangan banyak tanya...." saya memaksanya
Tiba disebuah emperan toko, yang tokonya sudah tutup. Seorang kakek renta terlihat menahan dingin, tanpa pakaian atas, meringkuk diantara dagangan sapu ijuknya. Kami menghampirinya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam......" Matanya berbinar "Beli sapunya ?" dia berharap
Aku duduk disisinya, sahabatku mengikutiku.
"Berapa satu?"
"Sepuluh ribu"
Sambil memilih2 saya kembali bertanya "Papuk* sehari dapet jualan berapa?"
"Ndak tentu. Alhamdulillah kadang kadang dapet duapuluh ribu"
"Hari ini sudah dapet berapa?"
Kakek tersenyum, "belum ada. makanya tiang** tidur dijalan. ndak ada ongkos untuk pulang"
"Kakek rumahnya dimana?" sahabatku yang dari tadi terdiam ikut bicara
Kami kaget karena rumah sang kakek berjarak puluhan kilometer dari kota kami.Dia berjalan kaki sambil memikul sapu2nya hingga ke jalan besar, menumpang angkot sampai terminal kota, dan berjalan lagi berkeliling kota menjajakan sapunya.
Kamipun terlibat obrolan panjang dengan sang kakek. Tentang sang nenek, tentang kehidupan kesehariannya, tentang anak anak dan cucunya, semuanya. Aku memperhatikan sahabatku, matanya berkaca kaca............dia menangis.....
Bagaimana mungkin seorang kakek bisa berucap alhamdulillah ketika sapunya terjual 2 buah dengan harga 20 ribu, harus berjalan seharian dengan beban dipundak rentanya, hanya dengan sangu sebotol air putih (dibotol air mineral bekas) dan nasi putih plus dua iris tempe goreng. Sedangkan sahabatku mengeluh ketika bisa mendapatkan 5jutaan. Subhanalloh.
Sahabatku merasa bersalah, padaNYA. Memeluk sang kakek yang kebingungan dan mengulurkan 1 juta rupiah untuk sang kakek..............
Sekarang sahabatku tak pernah mengeluh lagi, dia bahagia..........sholatnya semakin tertib, sedekahnyapun tak mikir mikir lagi.....ekonominya stabil. Cukup dan bersyukur. Wajahnya cerah bersinar. Anak2nya pintar disekolah dan rajin mengaji, isterinya setia dan sudah berhijab sempurna. Tak heran, karena Tuhan sejatinya memang mencintai hamba yang bersyukur. Pantas saja dia diberi kebahagiaan karena bersyukur, karena Tuhan cinta padanya.
Subhanalloh, sekarang aku yang iri padanya. Bukan iri yang benci, tapi iri yang ingin memperbaiki diri agar bisa sebaik dia atau bahkan lebih bahagia lagi.
Saya tak ingin menyampaikan pendapat, teori atau pemikiran semata. Ini hak, keadaan yang nyata dan bisa ditemukan disekitar kita. Masalahnya hati kita sudah mengeras, sehingga tidap peka lagi untuk merasakan penderitaan orang lain.
Semoga kita dapat memetik pelajaran. Mengapa kita perlu bersyukur.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar